5 Fakta yang Buktikan Breast Orgasm Benar-benar Ada

Payudara merupakan salah satu bagian tubuh pada perempuan yang sangat sensitif terhadap rangsang seksual. Bagian tubuh ini pun bahkan bisa menghadirkan orgasme unik yang kerap disebut dengan ‘breast orgasm’.

Berbeda dengan clitoral orgasm atau vaginal orgasm, orgasme payudara tidak terjadi di organ genital. Itulah mengapa, sebagian orang menganggapnya cuma sekedar mitos. Benarkah demikian? Beberapa bukti ilmiah bisa menjelaskan.

Berikut ini beberapa fakta yang bisa menjadi petunjuk keberadaan breast orgasm:

1. Membesar saat terangsang
Sebuah penelitian mengungkap bahwa ukuran payudara bisa membesar hingga 25 persen saat mendapatkan rangsang seksual. Perubahan ini juga diikuti dengan peningkatan sensitivitas. Faktor hormonal diyakini banyak berperan dalam perubahan ini.

2. Membuat otak ikut terangsang
Saat puting payudara mendapatkan rangsang seksual, otak mengalami peningkatan aktivitas di bagian tertentu. Bagian tersebut juga menjadi lebih aktif saat rangsang seksual diberikan di bagian yang lebih sensitif, misalnya Miss V atau lebih spesifik lagi di bagian klitoris.

3. Berubah warna
Warna puting payudara berbeda-beda, namun cenderung mengalami perubahan warna saat mendapatkan rangsang seksual. Dari yang semula agak pucat, menjadi semakin gelap saat sedang terangsang. Perubahan warna ini terjadi karena aliran darah di area tersebut meningkat.

4. Sensitivitas berubah-ubah
Sensitivitas payudara terhadap rangsang seksual berubah-ubah mengikuti siklus menstruasi, bervariasi pada setiap individu. Pada titik tertentu, sensitivitas lebih tinggi dibanding titik yang lain. Bentuk rangsangan yang disukai juga berbeda-beda, ada yang menyukai rangsang agak kasar dan ada pula yang lebih menyukai kelembutan.

Advertisements

3 Mitos Terbesar Soal Orgasme Perempuan Terbantahkan!

Perbincangan seputar orgasme perempuan yang dianggap tabu membuat banyak mitos berseliweran. Saking terlalu seringnya dibicarakan, mitos-mitos ini pun akhirnya dipercaya banyak orang.

Jenny Block, pakar seks sekaligus penulis buku O Wow mengatakan ada tiga mitos besar seputar orgasme wanita yang sampai saat ini masih dipercayai. Ketiga mitos tersebut berhubungan dengan klitoris, pusat stimulasi dan rangsangan seksual bagi wanita.

“Seks tidak didesain untuk membuat wanita mengalami orgasme. Tujuan utama berhubungan seks adalah menyalurkan sperma ke dalam rahim dan menghasilkan keturunan. Tanpa adanya perubahan, wanita tidak akan merasakan orgasme. Tapi sampai sekarang seks seperti ini masih kita lakukan,” ungkap Block, dalam tayangan HuffPost Live, dikutip dari Huffington Post, Jumat (30/10/2015).

Lalu apa saja mitos seputar orgasme perempuan yang disebut Jenny?

1. Klitoris tak distimulasi wanita tetap orgasme
Ada yang percaya bahwa tanpa stimulasi eksternal di klitoris, wanita tetap bisa orgasme. Anggapan ini dibantah dengan tegas oleh Jenny.

“Ini tidak benar. Setiap wanita membutuhkan stimulasi klitoris, terutama stimulasi eksternal. Gerakan maju-mundur saja tidak akan mengenainya dan tidak membuat wanita orgasme,” tutur Jenny.

2. Wanita sulit merasakan orgasme
Saat berhubungan intim, laki-laki lebih sering orgasme daripada wanita. Bahkan dikatakan wanita sulit mencapai orgames. Mengenai hal ini, Jenny kembali kepada pembicaraan awal tentang klitoris.

“Jika wanita ingin merasakan orgasme yang kuat, orgasme yang benar-benar keras, harus ada stimulasi di klitoris. Itu intinya. Jika pasangan mampu menstimulasi klitorismu dengan baik pasti kamu bisa orgasme,” tandasnya lagi.

3. Pakai kondom membuat seks tidak menyenangkan
Mitos yang paling umum didengar soal hubungan seks tentunya seputar penggunaan kondom. Baik pria maupun wanita percaya bahwa penggunaan kondom membuat hubungan terasa tak menyenangkan.

“Sebaliknya, seks menggunakan kondom atau pengaman lainnya sangat menyenangkan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti risiko hamil atau sperma yang tercecer di kasur dan lantai,” ungkapnya.